Recommended Post Slide Out For Blogger
News Update :
Home » » Soe Hok Gie dan Pemuda, Catatan 28 Oktober

Soe Hok Gie dan Pemuda, Catatan 28 Oktober

Penulis : Unknown on Monday, October 28, 2013 | 3:24 AM


D-Siagian Blog 28 OKTOBER, Sumpah Pemuda. Mengingatkanku kembali kepada sosok idealis yang mati muda, Soe Hok Gie. Kukutipkan beberapa pernyataannya yang berkaitan dengan kaum muda.
Hidup bagi Gie, ‘’Adalah soal keberanian menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar Terimalah dan hadapilahI

Dalam hidupnya yang tidak panjang, ia bermimpi tentang sebuah dunia, ‘’Di mana ulama,buruh & PEMUDA bangkit & berkata, “Stop semua kemunafikan!” Juga, ‘’Stop semua pembunuhan atas nama apapun! Tak ada lagi rasa benci pada siapapun, agama apapun, ras apapun, dan bangsa apapun.  Melupakan perang dan kebencian. Dan hanya sibuk dengan pembangunan dunia yang lebih baik.’’
Sebagai pemuda, dengan lantang Gie bertekad, ‘’Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan!’’ Baginya, ‘’Kebenaran biarpun bagaimana sakitnya lebih baik daripada kemunafikan.’’
Atas prinsipnya itu, Gie memutuskan, untuk tidak pernah membiarkan kesalahan. Dia memutuskan untuk terus menjadi demonstran, untuk terus melakukan demonstrasi, ‘’Karena mendiamkan kesalahan adalah kejahatan,’’ tegasnya. ‘’Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang menentang angin!’’
Kepada mahasiswa, kaum muda, Gie tegas mengingatkan, “Bahwa untuk memperoleh kemerdekaan sejati & hak-hak yang dijunjung sebagaimana mestinya, ada harga yang harus dibayar & memberontaklah caranya.’’
Tapi, ia juga memberi catatan, “Masih terlalu banyak mahasiswa yang bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan, tetapi menindas kalau berkuasa…”
PEMUDA-pemuda Indonesia yang penuh dengan idealisme, menurutnya ‘’Hanya punya dua pilihan. Yang pertama, tetap bertahan dengan cita-cita idealisme. Menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis.  Orang - orang dengan aneh & kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala. ‘Dia pandai & jujur, tapi sayangnya kakinya tidak menginjak tanah.’’ Atau, yang kedua, ‘’Dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus. Bergabung dengan grup yang kuat (partai, ormas, ABRI, dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat.’’ Golongan kedua ini, diakui Gie, ‘’Karier hidupnya akan cepat menanjak. Atau kalau mau lebih aman kerjalah di sebuah perusahaan yang bisa memberikan sebuah rumah kecil, sebuah mobil atau jaminan-jaminan lain & belajarlah patuh dengan atasan. Kemudian carilah istri yang manis. Kehidupan selesai’’
Dengan satir, ia menggambarkan kedua pilihan jalan itu. ‘’Yang satu bagai merasa Don Kisot melawan kincir angin, yang lain merasa sebagai pilot yang tidak pernah terbang.’’
Gie juga kerap berhubungan dengan jurnalis senior, Muchtar Lubis. Dan kenangnya,  ‘’Muchtar Lubis bilang pada saya, bahwa kalau seseorg memilih jalan jujur, hidupnya akan berat sekali. Dia akan kesepian, dijauhi kawan dan dibenci banyak orang. Mungkin sampai kita mati, kita akan terus seperti ini.’’
Gie bukannya mengendurkan langkah. Ia justru menantang dirinya sendiri. ‘’Beranikah kita berdiri sendiri? Kalau kita berani, majulah menuju dataran yg sepi dan kering. Tapi di sana ada kejujuran…  Terus terang saja, kadang-kadang saya takut sekali. Tapi selama saya bisa mengatasi ketakutan, saya akan maju terus.Sampai akhirnya saya patah.’’
Kepada teman-temannya sesama mahasiswa dan pemudia yang pragmatis dan dinilainya ”mengkhianati perjuangan”, Gie menulis puisi satir berjudul ‘’Kepada Pejuang-Pejuang Lama’’ :
‘’Biarlah mereka yang ingin dapat mobil, mendapatnya / Biarlah mereka yang ingin dapat rumah, mengambilnya/  Dan datanglah kau manusia-manusia / Yang dahulu menolak karena takut atau pun ragu/ Dan kita, para pejuang lama,/ Yang telah membawa kapal ini keluar dari badai/ Yang berani menempuh gelombang (padahal pelaut-pelaut lain takut)/ (Kau tentu masih ingat suara-suara di belakang…”mereka gila”) / Hai kawan-kawan pejuang lama/Angkat beban-beban tua, sandal-sandal kita, sepeda-sepeda kita, buku-buku kita atau pun sisa makanan-makanan kita/ Dan tinggalkan kenang-kenangan dan kejujuran kita/ Mungkin kita ragu sebentar (ya, kita yang dahulu membina kapal tua ini di tengah gelombang, ya kita betah dan cinta padanya)/ Tempat kita, petualang-petualang masa depan dan pemberontak-pemberontak rakyat/Di tengah rakyat, membina kapal-kapal baru untuk tempuh gelombang baru/ Ayo kita tinggalkan kapal ini/ Biarlah mereka yang ingin pangkat menjabatnya/ Biarlah mereka yang ingin mobil mendapatkannya/Biarlah mereka yang ingin rumah mengambilnya/ Ayo, laut masih luas, dan bagi pemberontak-pemberontak tak ada tempat di kapal ini….’’
Satu lagi puisinya, yang layak kita renungi, ”Tentang Kemerdekaan”:
Kita semua adalah orang yang berjalan dalam barisan yang tak pernah berakhir / Kebetulan kau baris di muka & aku di tengah/ Dan adik2ku di belakang/ Tapi satu tugas kita semua: Menanamkan benih-benih kejantanan yang telah kau rintis/ Kita semua adalah alat dari arus sejarah yang besar /Kita adalah alat dari derap kemajuan semua/ Dan dalam berjuang, kemerdekaan begitu mesra berdegup/ Seperti juga perjalanan di sisi penjara/ Kemerdekaan bukanlah soal orang-orang yang iseng dan pembosan/ Kemerdekaan adalah keberanian untuk berjuang/ Dalam derapnya, dalam desasnya, dalam raungnya kita adalah manusia merdeka/ Dalam matinya, kita semua adalah manusia terbebas!’’
‘’Announce justice triumphant, I announce uncompromising, liberty anda equality’’Gie mengutip kalimat ini dari Walt Whitman)
Gie adalah sosok manusia yang rela berada di tepian, kendati dia adalah motor dan nurani gerakan mahasiswa di eranya. Ia tak berjuang untuk kekuasaan. Gie yang berdarah Cina, tapi selalu berujar, ”mencintai Tanah Air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat”
Dan menurutnya, ”Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi & slogan-slogan! Kita hanya dapat mencintai sesuatu, kalau kita mengenal obyeknya!”
Di Hari Sumpah Pemuda ini, terngiang kalimat Gie, “Hanya di puncak gunung aku merasa bersih.”  Ia mati muda di sana. Tapi ia sudah ‘’mempersiapkannya’’ dengan ikhlas. Tertuang dalam ujarannya, ‘’Berbahagialah mereka yang mati muda. Makhluk kecil, kembalilah dari tiada ke tiada. Berbahagialah dalam ketiadaanmu.’’
Gie mati muda, tapi ia tidak pernah menyerah.
‘’Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan!’’ lantang ia teriakkan!
Sebagai penutup, simaklah suara ‘’adik-adik’’ sekampus Gie, yang tergabung dalam Chaseiro, yang menulis lirik tentang ‘’Pemuda’’.
Pemuda, kemana langkahmu menuju
Apa yang membuat engkau ragu
Tujuan sejati menunggumu sudah
Tetaplah pada pendirian semula
Dimana artinya berjuang
Tanpa sesuatu pengorbanan
Kemana arti rasa satu itu
Bersatulah semua seperti dahulu
Lihatlah kemuka
Keinginan luhur kan terjangkau semua
Pemuda, mengapa wajahmu tersirat
Dengan pena yang bertinta belang
Cerminan tindakan akan perpecahan
Bersihkanlah nodamu semua
Masa depan yang akan tiba
Menuntut bukannya nuansa
Yang selalu menabirimu pemuda


Share this article :
Comments
0 Comments

Post a Comment

Warning !!!

Komentar anda tidak boleh mengandung unsur :
1. Penghinaan,Rasis atau Pelecehan
2. Spamming (Spam Coments)
3. Link Iklan,Ads,etc
4. Link aktif atau text anchor dan sejenisnya.

Tulislah setiap kata dengan penuh makna kesopanan.
Keep Blogging

 
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger